Jangan Beli Susu Jika Kamu Melihat Tanda Merah Ini di Supermarket
Hampir semua orang pernah mengalaminya: mengambil kemasan susu di rak supermarket, lalu menyadari ada yang terasa aneh. Kemasan itu tampak sedikit menggembung, sisi-sisinya melengkung keluar seolah ada sesuatu di dalam yang mendorong. Kebanyakan orang hanya meletakkannya kembali dan mengambil kemasan lain tanpa berpikir panjang. Tapi tahukah kamu bahwa kemasan susu yang menggembung bisa menjadi tanda serius yang tidak boleh diabaikan begitu saja?
Kemasan susu yang menggembung bisa disebabkan oleh dua hal yang sangat berbeda: perubahan tekanan udara yang sederhana, atau proses fermentasi bakteri aktif yang sedang berlangsung di dalam kemasan itu sekarang juga. Keduanya terlihat mirip dari luar, tapi konsekuensinya sangat berbeda. Satu adalah masalah fisika. Yang lain adalah masalah keamanan pangan yang bisa membahayakan kesehatan kamu dan keluarga.
Apa Sebenarnya yang Terjadi di Dalam Kemasan Susu yang Menggembung?
Versi yang berbahaya terjadi ketika mikroba memecah laktosa, yaitu gula alami yang ada dalam susu, dan menghasilkan gas seperti karbon dioksida sebagai produk sampingan dari proses itu. Gas tersebut tidak punya tempat untuk pergi di dalam kemasan yang tersegel rapat, sehingga ia terus menumpuk dan mendorong dinding kemasan dari dalam. Hasilnya adalah tonjolan yang bisa kamu lihat dan rasakan ketika memegang kemasan tersebut. Tonjolan yang keras dan tidak kunjung kempes sering kali mencerminkan fermentasi bakteri yang sedang aktif terjadi, bukan sekadar perubahan tekanan atmosfer yang biasa.
Fenomena ini bahkan memiliki nama tersendiri di industri susu: “bulging defect” atau cacat menggembung, kadang juga disebut “abnormal fermentation” atau fermentasi abnormal. Ini bukan kejadian yang terjadi secara acak. Beberapa penyebabnya meliputi pemrosesan susu yang tidak tepat, sanitasi kemasan yang tidak memadai, atau kemasan yang cacat sehingga memungkinkan udara masuk ke dalam container, yang kemudian mendorong pertumbuhan bakteri lebih lanjut secara signifikan.
Ketika udara berlebih masuk ke dalam kemasan melalui segel yang rusak atau cacat, bakteri mendapat kondisi yang mereka butuhkan untuk berkembang biak dengan cepat. Bakteri-bakteri tersebut kemudian melepaskan gas yang menyebabkan pembengkakan yang kamu lihat dari luar. Inilah mengapa tonjolan yang keras dan menetap jauh lebih mengkhawatirkan daripada tonjolan yang lembut dan fleksibel.
Bagaimana Cara Membedakan Tonjolan yang Berbahaya dari yang Tidak?
Mikrobiolog Jason Tetro, host dari Super Awesome Science Show, menjelaskan cara praktis membedakan keduanya. Menurutnya, seperti yang dikutip dari Simply Recipes, pembengkakan karena tekanan udara biasanya terasa lembut dan bisa kembali ke bentuk semula, sementara pembengkakan karena pertumbuhan mikroba terasa keras dan tidak bisa kembali normal dengan sendirinya.
Cara paling mudah dan praktis yang bisa kamu lakukan langsung di supermarket adalah dengan menekan lembut sisi kemasan susu sebelum kamu membelinya. Jika kemasan terasa keras dan tidak mau kembali ke bentuk aslinya, itu adalah sinyal bahaya yang serius. Jika sedikit fleksibel dan terasa seperti bisa kembali normal, kemungkinan besar itu hanya masalah tekanan udara yang lebih tidak berbahaya.
Kalau kamu sudah telanjur membawa kemasan yang mencurigakan ke rumah, Tetro menyarankan untuk mengocok kemasan tersebut untuk memeriksa apakah ada gumpalan padat di dalamnya, lalu masukkan ke dalam kulkas dan amati apakah pembengkakannya berkurang. Jika berkurang, kemungkinan besar penyebabnya adalah tekanan udara. Namun jika kemasan tetap menggembung setelah beberapa waktu di kulkas, sebaiknya buang saja tanpa ragu.
Pranav Vashisht, seorang spesialis peningkatan berkelanjutan di Idaho Milk Products Inc. dan anggota divisi produk susu Institute of Food Technologists, menegaskan bahwa mengonsumsi susu dari kemasan yang menggembung tidak aman karena tingginya kadar pertumbuhan bakteri di dalamnya. Meminum susu semacam itu dapat menyebabkan masalah gastrointestinal, termasuk mual, diare, nyeri perut, dan muntah, dan dalam beberapa kasus bahkan bisa menyebabkan efek yang lebih parah dan memerlukan perawatan medis serius.
Mengapa Susu Bisa Basi Lebih Cepat dari yang Kamu Kira?
Suhu adalah variabel tunggal terbesar yang menentukan seberapa cepat bakteri berkembang biak di dalam susu. Pada suhu tubuh, bakteri yang ada dalam susu dapat menggandakan jumlahnya hanya dalam waktu 20 menit saja. Bayangkan betapa cepatnya kolonisasi bakteri bisa terjadi jika susu dibiarkan pada suhu ruangan dalam waktu yang lebih lama. Kecepatan ini memang melambat drastis di dalam kulkas yang dingin, tapi tidak pernah berhenti sama sekali.
Jika susu disimpan di atas suhu 4°C, ia akan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan, termasuk bau asam, rasa yang tidak enak, dan konsistensi yang menggumpal. FDA merekomendasikan agar kulkas dijaga pada suhu 4°C atau di bawahnya untuk memperlambat pertumbuhan bakteri pada produk susu dan bahan makanan yang mudah rusak lainnya. Susu tidak boleh dibiarkan pada suhu ruangan lebih dari dua jam, dan jika suhu ruangan di atas 32°C, jangka waktu itu menyusut menjadi hanya satu jam saja.
Tempat yang benar untuk menyimpan susu adalah di bagian belakang kulkas, bukan di rak pintu. Menurut American Dairy Association, bagian belakang kulkas cenderung memiliki suhu paling dingin dan paling konsisten, sehingga menjadi tempat terbaik untuk menyimpan susu setelah kamu membongkar belanjaan. Rak pintu kulkas mengalami fluktuasi suhu setiap kali pintu dibuka, yang mempercepat kerusakan bahkan pada kemasan yang tampak sempurna sekalipun. Ini adalah kesalahan penyimpanan yang sangat umum dilakukan banyak orang di rumah.
Bakteri Berbahaya yang Sering Tidak Disadari Ada di Susu
Kebanyakan orang mengasosiasikan susu basi dengan bau asam yang jelas dan penggumpalan yang terlihat kasat mata. Tanda-tanda itu memang nyata dan penting, tapi bukan satu-satunya risiko yang perlu kamu waspadai. Ada satu patogen yang sangat berbeda dari logika pembusukan makanan pada umumnya, dan itu adalah Listeria monocytogenes. Tidak seperti kebanyakan bakteri berbahaya lainnya, Listeria dapat bertahan hidup dan bahkan terus berkembang biak meski dalam kondisi pendinginan di kulkas sekalipun.
Makanan termasuk produk susu siap konsumsi yang didinginkan, susu mentah yang tidak dipasteurisasi, dan makanan yang dibuat dari susu yang tidak dipasteurisasi bisa terkontaminasi Listeria. CDC mengidentifikasi Listeria sebagai penyebab kematian ketiga terbesar akibat keracunan makanan. Infeksi Listeria bisa berakibat fatal, terutama bagi bayi yang belum lahir atau bayi baru lahir, orang dewasa di atas usia 65 tahun, dan orang-orang dengan sistem imun yang lemah. Pada wanita hamil, listeriosis bahkan bisa menyebabkan keguguran dan lahir mati, yang tentu saja merupakan tragedi yang menghancurkan.
Susu yang sudah dipasteurisasi jauh lebih aman dibandingkan susu mentah dalam hal ini, karena pasteurisasi membunuh Listeria secara efektif. Namun kontaminasi pasca-pasteurisasi, yaitu kontaminasi yang terjadi setelah proses pemanasan, selama pengisian, pengemasan, atau penanganan, tetap menjadi risiko yang terdokumentasi dengan baik. Semakin lama makanan siap konsumsi yang terkontaminasi Listeria disimpan, semakin banyak kesempatan patogen itu untuk berkembang biak. Itulah mengapa kemasan susu dengan segel yang rusak, jenis yang mungkin juga menunjukkan cacat menggembung, perlu ditanggapi dengan serius dan tidak dianggap remeh.
Tanggal Kedaluwarsa Bukan Jaminan Keamanan Mutlak
Ada asumsi umum yang keliru bahwa kemasan susu yang masih dalam batas tanggal jual atau tanggal kedaluarsanya otomatis aman untuk dikonsumsi. Sayangnya, anggapan ini tidak sepenuhnya benar dan bisa menyesatkan kamu. Tanggal “best before” atau “sell by” sebenarnya memberi tahu toko berapa lama mereka boleh memajang produk tersebut untuk tujuan manajemen inventaris. Itu bukan tanggal keamanan pangan yang sesungguhnya.
Susu pasteurisasi yang disimpan pada suhu 4°C atau di bawahnya sebenarnya masih bisa bertahan selama tiga hingga tujuh hari setelah tanggal jualnya. Tetapi jika kemasan telah disimpan secara tidak konsisten, baik selama pengiriman, di dok bongkar muat toko, atau di rak pintu kulkas kamu di rumah, margin aman itu akan menyusut secara signifikan. Sebuah kemasan yang masih dalam tanggal jualnya bisa mengandung susu yang sudah mulai rusak jika rantai dingin pernah terputus di mana saja dalam perjalanannya.
Ini juga berlaku di supermarket. Ketika kamu mengambil susu, pilihlah kemasan yang terasa benar-benar dingin saat disentuh, bukan hanya tampak didinginkan. Dan lakukan belanja produk susu terakhir, sehingga kemasan menghabiskan waktu sesedikit mungkin dalam kondisi memanas di keranjang belanjamu sebelum kamu sampai di rumah. Kebiasaan kecil ini bisa membuat perbedaan besar dalam memastikan kualitas susu yang kamu bawa pulang.
Cara Praktis Memeriksa Susu Sebelum Diminum
Kemasan yang menggembung adalah satu tanda bahaya, tapi ada beberapa tanda lain yang perlu kamu perhatikan sebelum menuangkan susu ke dalam gelas atau cangkir kopi kamu. Uji penciuman adalah cara yang cepat dan efektif. Bau asam, ragi, atau belerang semuanya menunjukkan adanya pembusukan akibat fermentasi bakteri yang tidak diinginkan.
Berikut adalah daftar pemeriksaan praktis yang bisa kamu lakukan secara rutin sebelum mengonsumsi susu:
- Periksa tanggal kedaluwarsa, tapi jangan hanya mengandalkan itu saja sebagai satu-satunya patokan keamanan
- Kocok kemasan untuk memeriksa apakah ada gumpalan padat di dalamnya yang tidak seharusnya ada
- Cari tanda penggumpalan, serpihan, atau gelembung gas yang terlihat
- Cium baunya untuk mendeteksi bau asam atau tengik yang tidak normal
- Tekan sisi kemasan untuk memeriksa apakah ada pembengkakan yang keras dan menetap
Jika kemasan mengeluarkan suara mendesis ketika dibuka, pertimbangkan susu itu sudah rusak meski tanggal pada label belum melewati batas. Suara mendesis itu adalah gas bertekanan yang melarikan diri dari dalam kemasan, dan itu adalah tanda langsung dari fermentasi bakteri yang sedang atau telah terjadi di dalam container. Jangan ambil risiko dengan mencium atau mencicipinya lebih lanjut.
Jika kemasan tetap menggembung setelah kamu membawanya pulang, buanglah. Periksa juga apakah ada gelembung gas yang terlihat, serpihan di dinding bagian dalam kemasan, penggumpalan, atau sesuatu yang mengendap di bagian bawah. Semua ini adalah tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan demi kesehatan dan keselamatan kamu dan orang-orang tersayang di rumah.
Untuk Kamu yang Baru Memahami Topik Ini: Penjelasan Sederhana
Jika kamu merasa topik ini agak teknis, jangan khawatir. Mari kita sederhanakan. Bayangkan susu di dalam kemasan adalah seperti sebuah ekosistem kecil. Di dalamnya ada air, lemak, protein, dan gula alami bernama laktosa. Ketika bakteri masuk



