Virus Tersembunyi di Dalam Bakteri Usus Umum Mungkin Terkait dengan Kanker Usus Besar
Ada sebuah paradoks yang telah mengganggu para peneliti kanker selama hampir satu dekade. Bakteri bernama Bacteroides fragilis terus-menerus ditemukan dalam jumlah tinggi pada penderita kanker kolorektal — namun bakteri yang sama ini juga hidup dengan damai di dalam usus sebagian besar orang sehat yang tidak pernah mengembangkan kanker sama sekali. Bagaimana bisa organisme yang begitu umum dikaitkan dengan penyakit yang begitu serius?
Sekarang, sebuah tim peneliti dari Odense University Hospital dan University of Southern Denmark mungkin telah menemukan jawabannya. Dan jawabannya bukan terletak pada bakteri itu sendiri — melainkan pada sesuatu yang bersembunyi di dalamnya.
Apa yang Ditemukan Para Peneliti?
Dr. Flemming Damgaard, dokter sekaligus PhD dari Departemen Mikrobiologi Klinis di Odense University Hospital dan University of Southern Denmark, menggambarkan paradoks ini secara langsung dalam pernyataannya kepada Science Daily: “Ini adalah paradoks bahwa kita berulang kali menemukan bakteri yang sama dalam hubungannya dengan kanker kolorektal, sementara pada saat yang sama bakteri itu adalah bagian yang sepenuhnya normal dari usus pada orang sehat.”
Paradoks itulah yang mendorong tim penelitinya untuk melihat lebih dalam — bukan hanya mengidentifikasi bakteri apa yang ada, tetapi meneliti mekanisme di dalam bakteri itu sendiri. Secara khusus, mereka mempertanyakan apakah virus yang hidup di dalam B. fragilis mungkin menjadi variabel tersembunyi yang selama ini luput dari perhatian para peneliti.
Yang mereka temukan adalah virus yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya. Damgaard menjelaskannya dengan lugas: “Kami telah menemukan virus yang sebelumnya belum pernah dijelaskan dan yang tampaknya sangat terkait dengan bakteri yang kami temukan pada pasien dengan kanker kolorektal.” Studi ini dipublikasikan pada Februari 2026 dalam jurnal Communications Medicine, dan merupakan salah satu kontribusi paling spesifik yang pernah ada dalam menjawab pertanyaan tentang bagaimana mikroba usus mendorong salah satu kanker paling umum di dunia.
Penjelasan Sederhana: Apa Itu Bacteriophage dan Mengapa Ini Penting?
Bagi yang belum familiar dengan topik ini, mari kita mulai dari dasar. Di dalam usus manusia hidup triliunan mikroorganisme — bakteri, jamur, dan juga virus. Kebanyakan dari kita tahu bahwa ada “bakteri baik” dan “bakteri jahat.” Namun ternyata ceritanya jauh lebih kompleks dari itu.
Ada jenis virus yang disebut bacteriophage — atau disingkat “phage” — yang tidak menginfeksi sel manusia, melainkan menginfeksi bakteri. Virus ini masuk ke dalam bakteri dan kadang-kadang menyisipkan materi genetiknya langsung ke dalam DNA bakteri tersebut. Ketika hal ini terjadi, virus itu disebut prophage — ia “tidur” di dalam bakteri dan bisa memengaruhi cara bakteri berperilaku.
Bayangkan seperti ini: Bacteroides fragilis adalah seorang warga kota yang tampaknya baik-baik saja. Ia hidup di usus Anda tanpa masalah. Namun beberapa dari warga kota ini membawa “penumpang gelap” — virus yang menempel pada DNA mereka. Dan kemungkinan besar, penumpang gelap inilah yang mengubah perilaku warga kota tersebut sehingga menjadi berbahaya. Itulah inti dari penemuan penelitian ini.
Virus yang ditemukan oleh tim Damgaard termasuk dalam kelas yang disebut Caudoviricetes prophages — jenis bacteriophage yang menyisipkan diri ke dalam genom bakteri inangnya. Dan yang membuat temuan ini luar biasa adalah bahwa virus ini ditemukan pada tingkat yang jauh lebih tinggi pada pasien kanker kolorektal dibandingkan orang sehat.
Skala dan Validasi Temuan
Penelitian ini bukan hanya dilakukan pada sampel kecil di satu lokasi. Tim peneliti memvalidasi temuan mereka menggunakan sampel tinja dari 877 individu dengan dan tanpa kanker kolorektal, yang berasal dari berbagai negara. Ini adalah detail yang sangat penting — asosiasi yang muncul hanya di satu populasi bisa saja mencerminkan pola makan lokal atau latar belakang genetik tertentu, bukan mekanisme penyakit yang universal. Ketika temuan yang sama muncul di berbagai negara, bobotnya jauh lebih besar.
Secara khusus, dua virus yang paling menonjol dalam penelitian ini adalah:
- Bacteroides phage FU: Terdeteksi pada 35,38% sampel kanker dibandingkan 21,88% pada kelompok kontrol sehat.
- Bacteroides phage ODE: Terdeteksi pada 32,38% kasus kanker dibandingkan 23,13% pada kontrol.
Secara keseluruhan, orang dengan kanker kolorektal dua kali lebih mungkin memiliki kadar bacteriophage yang dapat dideteksi dalam bakteri usus mereka. Angka dua kali lipat ini, yang bertahan secara konsisten di berbagai kohort geografis, adalah alasan mengapa asosiasi ini dianggap signifikan secara statistik — bukan sekadar kebetulan.
Potensi Sebagai Alat Deteksi Non-Invasif
Salah satu aspek yang paling menarik secara klinis dari temuan ini adalah potensinya sebagai alat tes deteksi dini yang tidak memerlukan prosedur invasif. Saat ini, prosedur standar untuk deteksi kanker kolorektal adalah kolonoskopi — yang membutuhkan persiapan usus, sedasi, dan sumber daya klinis yang signifikan. Ini membuat banyak orang enggan atau tidak mampu menjalaninya secara rutin.
Analisis awal dari penelitian ini menunjukkan bahwa urutan genetik virus ini dapat mendeteksi kasus kanker dengan sensitivitas yang cukup menjanjikan. Menurut laporan awal tentang temuan ini, tes awal menggunakan urutan viral yang dipilih berhasil mengidentifikasi sekitar 40% kasus kanker. Angka ini mungkin terdengar rendah, tetapi sebagai titik awal pengembangan biomarker dalam kategori penanda viral yang sepenuhnya baru, ini adalah pijakan yang sangat menjanjikan.
Damgaard sendiri menyatakan bahwa mempelajari virus-virus ini lebih lanjut dapat membantu “menilai risiko kanker kolorektal dan berpotensi meningkatkan pencegahan dan pengobatan.”
Pertanyaan Kausalitas: Apakah Virus Ini Menyebabkan Kanker?
Ini adalah pertanyaan yang paling mendasar — dan para peneliti sangat berhati-hati dalam menjawabnya. Studi ini menunjukkan asosiasi statistik antara virus dan kanker kolorektal, tetapi belum dapat membuktikan apakah virus tersebut memainkan peran langsung dalam perkembangan penyakit.
Seperti yang diakui Damgaard sendiri: “Kami belum tahu apakah virus tersebut merupakan penyebab yang berkontribusi, atau apakah itu hanya tanda bahwa sesuatu yang lain di dalam usus telah berubah.”
Ada dua penjelasan alternatif yang harus dipertimbangkan selain kausalitas langsung. Pertama, virus bisa saja mengubah perilaku B. fragilis dengan cara yang mendorong perkembangan tumor — misalnya dengan memproduksi toksin, mengganggu sinyal imun, atau memungkinkan bakteri bertahan di lingkungan yang seharusnya tidak ramah baginya. Kedua, virus bisa saja hanya menjadi “penumpang” — lingkungan usus pada pasien kanker mungkin sekadar lebih ramah bagi bacteriophage ini, sehingga kehadirannya menjadi penanda penyakit tanpa berkontribusi langsung terhadapnya.
Membedakan antara kemungkinan-kemungkinan ini memerlukan eksperimen fungsional yang sekarang sedang dilakukan oleh tim Odense.
Beban Kanker Kolorektal di Tahun 2026
Untuk memahami mengapa penemuan ini begitu penting, penting untuk melihat skala masalah kanker kolorektal saat ini. Menurut data dari program SEER National Cancer Institute, kanker kolorektal mewakili 7,5% dari semua diagnosis kanker baru di Amerika Serikat. Proyeksi 2026 dari American Cancer Society memperkirakan sekitar 158.850 diagnosis kanker kolorektal baru di Amerika Serikat saja tahun ini — sekitar 108.860 kasus kanker usus besar baru dan 49.990 kasus kanker rektum baru — dengan penyakit ini diperkirakan menyebabkan sekitar 55.230 kematian.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah tren demografisnya. Insiden kanker kolorektal meningkat 3% per tahun pada orang dewasa berusia 20 hingga 49 tahun, sementara justru menurun pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas. Pada orang dewasa di bawah 50 tahun, kanker kolorektal kini menjadi penyebab kematian kanker nomor satu pada pria dan nomor dua pada wanita.
Faktor risiko yang telah diketahui — usia, pola makan, obesitas, perilaku sedentari, dan predisposisi genetik — tidak sepenuhnya menjelaskan semua kasus. Inilah yang mendorong para peneliti untuk menyelidiki disbiosis mikrobioma usus sebagai faktor penting dalam perkembangan kanker kolorektal.
Paradoks Bacteroides Fragilis: Satu Dekade Pertanyaan Tanpa Jawaban
B. fragilis bukanlah organisme yang langka atau eksotis. Ia adalah penghuni normal usus manusia, hadir pada sebagian besar orang dewasa sehat. Kemunculannya yang berulang dalam studi kanker kolorektal telah menjadikannya salah satu bakteri yang paling banyak diteliti dalam onkologi gastrointestinal — sekaligus salah satu yang paling membingungkan.
Strain patogenik tertentu dari Bacteroides fragilis, terutama enterotoxigenic B. fragilis (ETBF), telah dikaitkan dengan kanker kolorektal bersama organisme seperti Fusobacterium nucleatum dan Escherichia coli yang mengandung pks, yang dapat mendorong karsinogenesis melalui peradangan kronis, produksi metabolit genotoksik, penghindaran imun, dan pemrograman ulang epigenetik.
Penemuan bacteriophage ini menambahkan lapisan baru pada gambaran tersebut. Alih-alih bertanya strain B. fragilis mana yang berbahaya, tim peneliti bertanya apakah penumpang viral di dalam bakteri — yang tidak terlihat oleh analisis sebelumnya yang mengkarakterisasi bakteri hanya pada tingkat spesies — bisa menjadi faktor pembeda. Dengan menggunakan analisis asosiasi pangenome-wide, mereka secara khusus mencari perbedaan genetik yang bertanggung jawab atas dualitas bakteri antara presentasi berbahaya dan jinak.
Tiga Jalur Penelitian Aktif yang Sedang Berjalan
Flemming Damgaard dan kolega penelitinya saat ini sedang mengejar tiga proyek tindak lanjut terpisah yang semuanya dirancang untuk menjawab pertanyaan kausalitas yang belum terjawab:
Pertama, mereka sedang membudidayakan B. fragilis yang membawa virus dalam model usus buatan untuk memeriksa bagaimana jaringan usus, virus, dan bakteri berinteraksi. Ini didanai oleh Louis Hansen Foundation. Model usus artifisial memungkinkan observasi terkontrol tanpa variabel perancu yang ada dalam studi manusia.
Kedua, mereka akan menginokulasi tumor kanker kolorektal dan mencari bakteri serta virus secara langsung di dalam jaringan tumor — didanai oleh Novo Nordisk Foundation. Pengambilan sampel jaringan tumor akan menentukan apakah phage ini secara fisik hadir di lokasi kanker, bukan hanya dapat dideteksi dalam tinja.
Ketiga, mereka akan menguji pada tikus yang secara genetik predisposisi untuk mengembangkan kanker apakah tikus-tikus tersebut mengembangkan penyakit lebih cepat



