Struktur Geologis Raksasa Tersembunyi Ditemukan di Bawah Es Antartika
Ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di bawah lapisan es tebal Antartika — dan bukan tentang makhluk prasejarah atau teori konspirasi. Ini adalah penemuan ilmiah nyata yang mengubah cara kita memahami benua paling terpencil di Bumi, dan dampaknya bisa terasa hingga ke garis pantai Indonesia.
Pada Juni 2026, tim peneliti internasional mengumumkan temuan yang mengguncang dunia geologi. Di bawah lapisan es Antartika Timur, tersembunyi sebuah struktur geologis raksasa yang belum pernah dikenali sebagai satu kesatuan utuh sebelumnya. Struktur ini memiliki bentuk seperti kipas, terdiri dari sekitar 30 cekungan yang saling terhubung, dan membentang sejauh ribuan kilometer. Para ilmuwan menamakannya East Antarctic Fan-Shaped Basin Province, atau disingkat EAFBP.
Yang membuat penemuan ini mengejutkan bukan hanya ukurannya yang luar biasa, tapi fakta bahwa data-datanya sudah ada selama beberapa dekade. Para ilmuwan hanya belum pernah melihatnya sebagai satu struktur tunggal — sampai sekarang.
Apa Itu EAFBP dan Mengapa Ini Penting?
Untuk memahami betapa signifikannya penemuan ini, bayangkan kamu sedang melihat puzzle besar. Selama bertahun-tahun, ilmuwan hanya memperhatikan kepingan-kepingan terpisah — Wilkes Basin di sini, Aurora Basin di sana, lalu Danau Vostok di tempat lain. Mereka mempelajari masing-masing kepingan secara terpisah, tanpa menyadari bahwa semuanya sebenarnya bagian dari gambar yang jauh lebih besar.
Tim yang dipimpin oleh geofisikawan Dr. Egidio Armadillo dari Universitas Genoa, yang temuannya dipublikasikan di Nature Geoscience pada 3 Juni 2026, akhirnya berhasil menyatukan kepingan-kepingan itu. Penelitian ini melibatkan institusi dari Italia, Swiss, Jerman, dan Inggris. Departemen Geografi Durham University memainkan peran kunci dalam analisis topografi yang memungkinkan struktur ini terlihat dengan jelas.
EAFBP terbentang dari Teluk Prydz di 70 derajat bujur timur hingga Pegunungan Transantarktik di 160 derajat bujur timur — rentang horizontal sekitar 90 derajat garis bujur. Dua komponen utamanya, Wilkes Basin dan Aurora Basin, masing-masing membentang lebih dari 1.500 kilometer dari pantai Antartika menuju pedalaman benua. Struktur ini melebar ke arah pantai, seolah seseorang menarik sudut Antartika dan merentangkannya dari titik pivot di bagian dalam benua.
Menurut Science Daily, penemuan ini bukan hasil dari satu ekspedisi dramatis. Sebaliknya, ia lahir dari sintesis yang sabar selama beberapa dekade — survei radar, pengukuran gravitasi, data anomali magnetik, dan profil seismik — yang kemudian diinterpretasikan ulang melalui lensa analitis baru yang mengungkap arsitektur yang tidak pernah ada yang mencarinya secara eksplisit sebelumnya.
Penjelasan Sederhana: Bagi Kamu yang Baru Mendengar Ini
Antartika tertutup es yang sangat tebal — di beberapa tempat mencapai tiga kilometer lebih. Artinya, kita tidak bisa langsung melihat batuan di bawahnya seperti melihat lantai sungai yang jernih. Para ilmuwan harus menggunakan gelombang radar, satelit, dan pengukuran gravitasi untuk “melihat menembus” es tersebut dan memetakan permukaan batuan di bawahnya.
Selama puluhan tahun, mereka menemukan berbagai cekungan besar — seperti lembah-lembah raksasa yang terbenam di bawah es. Mereka mendokumentasikan cekungan-cekungan ini satu per satu. Tapi tidak ada yang pernah menyadari bahwa semua cekungan itu sebenarnya terhubung dalam satu pola besar berbentuk kipas.
Salah satu fitur paling terkenal di dalam struktur ini adalah Danau Vostok — danau subglasial terbesar yang diketahui di Bumi. Danau ini terkubur sekitar empat kilometer di bawah Stasiun Vostok milik Rusia, memanjang lebih dari 240 kilometer, dan menampung sekitar 5.400 kilometer kubik air. Bayangkan ukurannya — ini bukan danau biasa. Ini adalah lautan tersembunyi di bawah es.
Nah, Danau Vostok ini ternyata hanyalah salah satu komponen dari struktur yang jauh lebih besar yang baru saja diidentifikasi. Dan itu hanyalah gambaran betapa masifnya EAFBP ini.
Bagaimana Bumi Pernah Menarik Dirinya Sendiri Terpisah
Mekanisme yang menciptakan struktur ini disebut distributed rotational extension — proses di mana kerak bumi meregang keluar dari titik pusat yang tetap, seperti jari-jari yang merentang dari telapak tangan. Pola ini menyerupai tangan manusia: pangkal ibu jari sebagai titik tetap, dan jari-jari yang terbuka lebar menunjukkan arah peregangan. Celah-celah di antara jari-jari itulah yang menjadi cekungan segitiga yang terbentuk saat kerak bumi terbuka.
Temuan yang dipublikasikan dalam makalah Nature Geoscience yang sama memperkirakan asal mula struktur ini dari ekstensi rotasional yang terjadi selama pemecahan superkontinen Gondwana, antara 90 hingga 150 juta tahun lalu. Ini berarti EAFBP terbentuk jauh sebelum dinosaurus punah — dan strukturnya memengaruhi bagaimana benua-benua berpisah, termasuk pemisahan Antartika dari Australia.
Menurut Divisi Antartika Australia, Australia mulai memisahkan diri dari Antartika sekitar 85 juta tahun lalu, dengan pemisahan samudra penuh selesai sekitar 30 juta tahun lalu — sebuah garis waktu yang cocok erat dengan fase tektonik yang diidentifikasi para peneliti dalam EAFBP.
Proses ini juga memiliki konsekuensi yang jauh melampaui pembentukan cekungan itu sendiri. Di sisi barat, ekstensi ini menyebabkan kompresi dan pengangkatan Pegunungan Gamburtsev. Di sisi timur, segmen paling utara dari Pegunungan Transantarktik berputar searah jarum jam sekitar 20 derajat. Pegunungan Gamburtsev, yang sepenuhnya terkubur dan ukurannya setara dengan Pegunungan Alpen Eropa, pertama kali terdeteksi oleh ilmuwan Soviet pada 1958 — dan asal-usulnya telah lama membingungkan para geolog. Penelitian baru ini memberikan penjelasan tektonik yang menyatukan pembentukan mereka dengan kekuatan rotasional yang sama yang membentuk EAFBP.
Pemetaan Bawah Es: Teknologi di Balik Penemuan
Untuk memvisualisasikan struktur ini, para peneliti harus memecahkan masalah yang cukup rumit: es yang tebal mendorong batuan di bawahnya ke bawah karena beratnya. Ada sekitar 27 juta kilometer kubik es yang menutupi Antartika, dan massa itu menekan batuan dasar ke bawah. Memetakan apa yang sebenarnya ada di bawah es — bukan hanya apa yang ditunjukkan gambar radar — membutuhkan rekonstruksi batuan dasar yang terkompresi itu ke keadaan tanpa beban.
Dr. Guy Paxman dari Departemen Geografi Durham University memberikan kontribusi perhitungan yang memperkirakan bagaimana lanskap Antartika Timur akan terlihat jika seluruh lapisan es diangkat — sebuah proses yang akan menyebabkan daratan memantul ke atas sejauh satu kilometer saat beban es terangkat. Topografi “rebound” yang direkonstruksi ini memungkinkan peneliti untuk memeriksa elevasi dan orientasi struktur geologis yang baru diidentifikasi.
Selain itu, menggunakan satu dekade data dari satelit altimetri radar CryoSat-2 milik European Space Agency, para peneliti mendeteksi 85 danau subglasial aktif di Antartika — meningkatkan jumlah danau subglasial aktif yang diketahui sebesar 58%. Secara keseluruhan, survei radio-echo sounding telah mendeteksi 773 danau subglasial secara global, dengan 675 di antaranya berada di Antartika.
Teknik pemetaan dasar gletser melalui radio-echo sounding telah memungkinkan resolusi fitur topografi subglasial skala besar yang semakin detail selama beberapa dekade terakhir, dan inilah fondasi data yang memungkinkan penemuan EAFBP menjadi mungkin.
Batuan Dasar yang Masih Membentuk Es di Atasnya
Ini bukan sekadar kisah geologi kuno. Geometri yang terkubur dari cekungan-cekungan ini secara aktif memengaruhi cara aliran es di seluruh benua hari ini — dan itu memiliki relevansi langsung terhadap ilmu tingkat laut.
Batuan dasar di bawah lapisan es bertindak seperti nampan yang menampung air. Miringkan nampannya, turunkan bagian-bagiannya, atau ukir saluran di dalamnya, dan cairan di atasnya akan merespons sesuai. Di mana batuan dasar turun ke cekungan yang dalam, es bisa menjadi terpancang di bawah permukaan laut — konfigurasi yang membuatnya sangat rentan terhadap masuknya air laut dan potensi ketidakstabilan.
Sektor berbasis laut di Antartika Timur mewakili sekitar 5 meter potensi kenaikan permukaan laut, dan penelitian menunjukkan bahwa mereka berisiko kehilangan stabilitas pada pemanasan global 2 hingga 5 derajat Celsius. Lapisan es Antartika Timur selama ini dianggap sebagai massa es yang lebih stabil dari dua massa es utama Antartika, tapi geometri batuan dasar yang terkubur memperumit asumsi itu secara signifikan.
Gambaran yang lebih luas tentang trajektori lapisan es Antartika saat ini memperkuat mengapa struktur batuan dasar begitu penting. Antara 1979 dan akhir 2024, Lapisan Es Antartika kehilangan total 4.876 ± 530 Gt es, berkontribusi 13,5 ± 1,5 mm terhadap kenaikan permukaan laut rata-rata global. Data dari Copernicus Climate Change Service menunjukkan bahwa Antartika kehilangan 82 Gt es pada tahun 2024 saja. Lapisan es Antartika berpotensi berkontribusi 28 sentimeter terhadap permukaan laut pada tahun 2100 — dan mungkin lebih jika pemanasan melampaui ambang batas yang memicu ketidakstabilan dan kemunduran cepat.
Air Subglasial sebagai Akselerator Es
EAFBP juga membingkai ulang pemahaman ilmiah tentang hidrologi subglasial — sistem air yang ada di dasar es. Air subglasial bertindak sebagai pelumas antara es dan batuan dasar. Ketika mengalir cepat melalui sistem cekungan yang terhubung, ia bisa mempercepat aliran es dan meningkatkan laju es yang masuk ke laut.
Pengamatan CryoSat-2 yang diterbitkan di Nature Communications pada September 2025 mengidentifikasi lima jaringan danau subglasial dengan drainase hulu dan pengisian hilir secara bersamaan, serta 25 kelompok danau — meningkatkan pengetahuan tentang jalur hidrologi subglasial yang saling terhubung. Konektivitas EAFBP yang baru diakui menunjukkan bahwa jaringan drainase ini mungkin jauh lebih luas dan terorganisir secara struktural dari yang sebelumnya diasumsikan.
Arsitektur cekungan EAFBP — sistem cekungan yang saling terhubung mencakup sekitar setengah dari Lapisan Es Antartika Timur — menyediakan persis jenis “perpipaan” topografi terorganisir yang bisa memusatkan dan mengarahkan air



